Tampilkan postingan dengan label Copy-Paste. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Copy-Paste. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2007

Plastik Bergaya Keramik



Jakarta – Polymer clay mungkin masih barang baru di Indonesia, tapi di Amerika Serikat sudah menjadi hobi. Buat mereka yang tak suka berkotor-kotor, dia menjadi alternatif untuk berkreasi. Dengan bahan sejenis plastik khusus ini, pehobi bebas menciptakan barang hiasan, tanpa batas. Karena sifatnya yang tak mengotori tangan, polymer clay cepat disukai anak-anak dan ibu-ibu.
Sh/Str-Agung Prabowo
Karena keluwesannya, model apa pun bisa dibuat, misalnya diaroma mungil atau hiasan dinding kecil untuk menyambut
Natal.

Di Indonesia kehadiran disambut meriah walau baru setahun diintroduksi oleh Blue Berry. Galeri kerajinan yang terletak di Kemang itu, kebanjiran pehobi yang ingin mempelajarinya. Sampai-sampai Elisabeth Wahyu (28), pengelola sekaligus pengajarnya, dibuat sibuk mengatur jadwal kelas. Tercatat yang telah selesai mengikuti kursus sebanyak 300 orang, sedang 50 orang lagi masih dalam proses belajar.
Menurut Elis, begitu panggilannya, animo masyarakat terhadap kegiatan kreatif ini luar biasa. Sampai-sampai dia tak sanggup melayani permintaaan yang datang dari luar Jakarta. Bukannya tak mau, tapi karena keterbatasan sdm dan ingin menjaga mutu. Kalau dia paksakan berakibat pada pembekalan teori dan praktek yang kurang matang. Dia tak bisa konsentrasi karena terburu-buru harus bolak-balik ke kota untuk mengajar.
”Mungkin untuk masa sekarang belum dulu deh ke luar kota. Nanti-nanti kalau di sini sudah mantap,” ujar ibu satu anak itu. Menurutnya, dalam proses pembekalan teknik dibutuhkan keseriusan, walau produk yang dihasilkan terkesan lucu dan imut. Tidak mudah membuat benda-benda hiasan dari polymer clay. Proses yang sulit adalah membiasakan tangan untuk memijit-mijitnya. Tiap orang, sambungnya, punya feeling yang berbeda sehingga jangan heran jika hasil akhir yang dibuat oleh dua orang pun bisa berbeda, walau produk yang dibuat sama.

Plastik dari Jerman
Polymer clay ditemukan pertama kali tahun 1930 dan berasal dari Jerman. Dia merupakan salah satu produk plastik yang dikenal dengan nama polyvinyl chloride atau PVC yang dicampur warna dan bahan kimia lainnya sehingga tidak keras. Kekenyalannya mirip lilin malam. Dia baru mengeras jika dipanaskan. Penggunaan di awal ketika ditemukan, belum serumit sekarang. Masih terbatas pada pembuatan house hold yang gampang.
Karena sifatnya yang mirip lilin, orang mulai banyak yang menyukai. Kalau salah bisa dibongkar berkali-kali dan dibentuk lagi, sampai didapat hasil yang diinginkan. Barulah produk itu dipanaskan agar menjadi keras. Menurut Elis, proses pemanasannya tidak serumit seperti pada proses pembakaran keramik yang membutuhkan tungku. Dia cukup dimasukkan dalam oven rumah tangga yang mempunyai timer dan penunjuk (suhu) panas.
”Waktunya hanya 10 menit dengan suhu 140 derajat sampai 160 derajat Celsius. Pemanasannya juga tergantung oven. Makanya sebelum dimasukkan ke dalam oven, lakukan tes dulu supaya hasilnya tidak mengecewakan.” Ditambahkannya, ada produk yang dipanaskan setelah 10 menit ternyata masih lembek. Jika demikian, masukkan lagi sampai didapat waktu yang pas untuk proses pengerasannya. Tapi perhatikan juga, jangan terlalu lama, karena bisa gosong dan baunya kurang sedap.

Serba bisa
Hadirnya polymer clay membuat orang jadi mudah berkreasi. Apa saja bisa diaplikasikan lewat plastik ajaib ini. Tapi syaratnya harus menguasai ilmunya. ”Apa saja bisa dibuat, mulai pigura foto, aksesori, boneka, bunga, binatang sampai profil wajah orang,” ujar lulusan Loyola Mary Mount University itu.
Untuk membentuk berbagai macam model itu, selain butuh keterampilan tangan, juga alat-alat bantu lainnya. Misalnya moulding (alat giling), cetakan, clay gun yang jika dipencet akan mengeluarkan ”mie.”
Ini dipakai untuk membuat rambut pada boneka. Juga pisau khusus untuk memotong lempengan. Jika memakai pisau biasa, hasil irisan akan meninggalkan bekas. Tetapi dengan pisau ini, hasil potongannya bersih. Lalu alat pelubang jika ingin membuat mote (beads) untuk kalung, dan masih banyak lagi alat yang dibutuhkan.
Perkenalan Elis dengan benda itu juga ketika dia sedang belajar di Amerika Serikat tahun 1997-2001. Di sana banyak craft store yang menjual aneka produk jadi dan bahan-bahannya. Salah satu yang menarik adalah polymer clay, yang menurutnya, mirip membuat kue. Elis lalu teringat ketika kecil sering melihat ibunya membuat kue. Maka dicobanya dan akhirnya ketagihan.
Perkembangan polymer clay di negara penemunya, Jerman, justru tak menggebu-gebu seperti apa yang terjadi di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu, menurut Elis, banyak artis polymer clay yang hebat. Mereka masing-masing menguasai satu bidang. Jadi jika ingin melihat karya bunga yang terbaik, lihatlah artis ini. Atau jika mau tahu siapa pembuat wajah orang yang beken, pasti si anu.
Karena perkembangannya cukup heboh, polymer clay di sana menjadi komoditas sekaligus hobi yang kreatif. Beberapa perusahaan pembuat bahan baku dan peralatannya kebanjiran dolar akibat berduyun-duyunnya orang membuat kerajinan dengan bahan tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan pehobi, kini sudah tersedia 40 warna. Dari warna-warna ini, bisa dibuat warna baru dengan mencampurkan antarbahan.
Tak heran jika pehobi di Amerika Serikat kesenangan karena kreasi mereka menjadi tak terbatas. Warna-warna gradasi bisa dibuat dengan mencampur dua bahan sekaligus, misalnya merah tua dan merah muda. Caranya, bahan-bahan itu dipotong lalu digiling bersamaan dengan alat bantu, menjadi lempengan. Maka lempengan yang terbentuk memperlihatkan gradasi warna merah muda dan merah tua. Dari lempengan ini bisa dibentuk jadi kelopak bunga mawar dan sebagainya.

Perkembangan
Tiap tahun ada saja perkembangan baru yang terjadi di sana. Bisa saja ada warna baru dan alat bantu yang khusus. Jadi mau tak mau, seseorang yang mendalaminya harus terus belajar. Sebab ada bentukan atau model yang hanya bisa dibuat dengan alat tertentu yang baru saja dikeluarkan. Untuk menguasai teknik itu, pehobi harus mempelajarinya lagi. ”Tidak ada kata malas jika mau menekuni polymer clay,” ujarnya.
Di Jepang hobi ini juga berkembang, namun memakai bahan baku yang berbeda yakni yang berbasis kertas. Namun warnanya baru ada tujuh macam. Pembuatannya tak perlu dipanaskan. Di sana julukannya paper clay atau sering juga disebut deco clay. Jika bahan tersebut akan dibuat sesuatu, harus cepat diselesaikan. Sebab jika kelebihan waktu, paper clay akan mengering. Kalau salah dia tak bisa dibongkar ulang, namun praktis karena untuk mengeringkan cukup diangin-anginkan.
Sepulangnya ke Indonesia Elis mencoba memperdalam lagi lewat eksperimen dan praktek. Produk yang dibuatnya, menurut teman-temannya, lucu dan unik. Maka dengan bulat hati hasil hobinya itu dipamerkan di gerai sebuah mal. Ternyata tanggapan publik positif. Ide untuk mengembangkan dengan menularkan ilmu pada khalayak munculnya baru tahun lalu.
Berbekal modal sedikit dan dibantu teman-teman ibunya, dia membuka craft centre di Kemang. Orang yang melihat pasti tertarik ingin belajar polymer clay. Semua muridnya ”terjaring” berawal dari rasa penasaran ketika menyaksikan boneka mini, binatang atau aksesori yang dipajang di gerainya di Mal Pondok Indah dan Pasaraya. Juga dari mulut ke mulut.
Ketertarikan mereka untuk mempelajari hobi baru ini, menurut Elis, karena bisa menuangkan imajinasi dengan bebas, ditambah lagi warna-warnanya menarik. Mungkin juga karena tangan tidak kotor. Yang menggembirakan dengan hadirnya polymer clay, banyak anak-anak yang tertarik belajar. Sejak kecil jika terbiasa melatih ketekunan dengan tangan, membuat anak menjadi tenang dan sabar.

Pengisi Waktu Senggang
Ibu-ibu yang mengambil keterampilan ini pancarannya anteng karena waktunya terisi dengan kegiatan yang menuntut kreativitas. Produk yang dibuat mereka rata-rata bagus, karena biasanya perempuan tekun jika mengerjakan sesuatu. Beberapa mantan murid Elis yang buatannya bagus, ditawarkan untuk memamerkan hasil karyanya di gerai Elis. ”Mereka hobi membuat, namun tidak suka jualan. Makanya saya pun terbantu dengan adanya mereka, karena banyak pesanan suvenir yang mengalir.”
Di Blue Berry ada kelas untuk anak di bawah 7 tahun, kelas 7-14 tahun, dan kelas dewasa. Kelas dewasa dibagi, ada pemula, lanjutan 1 dan lanjutan 2. Kelas anak diajarkan bentuk dasar dulu; bulat gepeng dan bentuk air mata (tear drops). Mereka diajar untuk melemaskan jemarinya agar get feeling sama clay-nya.
Untuk dewasa pemula, dilatih memotong kecil-kecil, membuat buah, keranjang, juga mencampur warna untuk mencari efek gradasi yang pas. Di kelas lanjutan 1, ada kelas yang khusus membuat floral, jewelry (kalung), bros dan patung orang-orangan dalam frame. Sedang di kelas lanjutan 2, mereka belajar membuat bunga anggrek, napkin ring (cincin serbet) dan jenis barang yang memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Di kelas jewelry ini, menurut Elis, banyak ibu-ibu yang menyukai karena di sini mereka diajarkan teknik membuat mote dengan gradasi warna yang komplek. Dengan menguasai teknik ini, pehobi aksesori bisa membuat kalung eksklusif untuk dipakai sendiri. Warna-warnanya yang lahir adalah warna yang tak ada di pasaran. ”Orang sering nggak sangka kalau dari polymer clay bisa dibuat kalung seperti batu giok, saking miripnya,” ujar Elis. (SH/gatot irawan)

Selasa, 29 Mei 2007

Mengapa Anak Terus Panas-batuk-pilek?

Wed Sep 11, 2002

Artikel pendek ini menjelaskan bagaimana Anda bisa mengatasi panas-batuk-pilek anak Anda berkepanjangan, dengan menghilangkan kepercayaan terhadap antibiotika yang lebih banyak menimbulkan masalah daripada manfaat dalam mengobati FLU.

Mengapa anak terus panas-batuk-pilek?

Oleh: Prof. Iwan Darmansjah

Seorang bayi seharusnya jarang sakit, karena masih ditopang imunitas tinggi sewaktu dikandung atau menyusu ibunya. Penyakit sehari-hari seperti flu (yang ditandai panas-batuk-pilek), penyakit virus lain, atau bahkan infeksi kuman dapat ditolaknya. Sejak lama fakta ini telah disadari. Coba saja, bila bayi Anda tinggal serumah dengan seorang penderita campak, maka biasanya ia tidak akan gampang tertular.

Namun nyatanya, banyak anak dan bayi menjadi pelanggan dokter setiap 2 - 3 minggu karena penyakit yang sama: bolak-balik demam, batuk, dan pilek. Tentu banyak orang tua bosan. Mereka menggugat, "Mengapa ini harus terjadi, sedangkan semua kebutuhan anak saya telah dicukupi?"

Pencetus penyakit pada anak memang sulit ditentukan, karena dapat bermacam-macam, misalnya lingkungan kurang sehat, polusi tinggi, dan ada perokok di rumah. Penggunaan penyejuk udara (AC) di malam hari bisa menimbulkan alergi suhu dingin, sehingga hidung anak mampet, sehingga ia bernafas lewat mulut. Kipas angin dipasang di kamar tidur yang lalu meniup debu ke segala penjuru kamar. Belum lagi penularan virus di sekolah dan tempat ramai seperti mal. Juga perawat yang sedang batuk - pilek. Tak langka pula kejadian sakit gara-gara anak mengonsumsi makanan ringan tidak sehat yang membuat tenggorokan menggelitik.

Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun. Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya.
Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk-pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Selain mubazir, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek sampingan berbahaya. Kalau dikatakan akan mempercepat penyembuhan pun tidak, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol (membandingkan dengan plasebo, alias obat bohong) berulang kali sejak ditemukannya antibiotik di tahun 1950 - 1960-an. Hasilnya selalu sama sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.

Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi. Orang tuanya lalu langsung membeli antibiotik di apotik atau pasar hanya karena setiap kali ke dokter mereka diberi obat tersebut.

Lingkaran setan ini: sakit >> antibiotik >> imunitas menurun >> sakit lagi >>, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun. Komplikasi juga sering akan terjadi, yang akhirnya membawa anak itu ke kamar perawatan di rumah sakit.

Pengalaman menunjukkan, bila antibiotik dicoret dari resep (sementara obat batuk-pilek yang adekuat diberikan), setelah 1 - 3 bulan si anak tidak akan gampang terserang penyakit flu lagi. Pertumbuhan badannya pun menjadi lebih baik.

Salah kaprah kedua ialah gejala batuk - pilek yang tidak diobati secara benar; artinya, siasat pengobatan perlu diubah. Ini lantaran obat jadi yang dijual di apotek tidak selalu dapat mengatasi masalah setiap penderita. Bahkan sering terjadi, batuk - pilek malah menjadi lebih parah dan berkepanjangan.

Suatu perubahan dalam resep, yang mendasar dan individual, perlu dilakukan untuk memutus lingkaran setan panas-batuk-pilek ini. Yang utama ialah menghentikan antibiotik, tidak memberikan kortikosteroid secara terus-menerus, menghentikan pemberian obat penekan batuk dan menggantinya dengan bronkodilator, serta memberikan campuran obat pilek yang baru. Efedrin dosis kecil - dicampur dengan antihistamin yang efektif - merupakan obat pilek terbaik. Pseudo-efedrin, fenilpropanolamin, atau etilefrin yang lebih sering dijumpai dalam obat-jadi, tidak lebih baik dari efedrin, walaupun lebih mahal. Semua obat lain yang ternyata tidak terbukti efektif perlu dihentikan.

Terakhir, yang tidak kalah penting, carilah faktor pencetus yang dicantumkan di awal tulisan ini. Bila ditemukan, hindarilah. Selamat mencoba. Semoga anak Anda tidak perlu lagi begitu sering berobat karena flu!

Pencetus baru telah saya temukan diantara beberapa pasien anak. Ternyata orang tua jaman ini sering entertain anaknya di Mal. Kasus pertama, anaknya terus sakit, pun bila sebelumnya sangat sehat. Berikut ini sms-nya berbunyi setelah saya tanyakan "apa yang terjadi sebelumnya?" "Nga ada tanda lain. Tadi siang jam 2 BAB-nya baik, BAK banyak & kuning tua. Dari jam 11 jalan2 di mal (Pl. Senayan) sampai jam 4 sore, dia ngekuh pusing & cape". Saya menjawab bahwa Mal bukan tempat rekreasi yang sehat; pantesan pulang demam tinggi sampai 2 hari. Dengan hanya parasetamol akhirnya panas hilang dan terus sembuh. Pasien lain cerita hal yang sama, anaknya bermain dengan ayahnya (ibu di rumah karena banyak kerjaan), namun dari jam 10-an sampai jam 9 malam. Berapa banyak orang tua di kota Jakarta ini berbuat demikian untuk 'mengangin2'-kan anaknya? Sebagian besar akan berakhir dengan panas, batuk, pilek, berak2, dan muntah secara akut. Jelas Mal bukan tempat rekreasi yang sehat, karena penuh dengan virus dan kuman.

Minggu, 27 Mei 2007

Selaraskan Hidup Dengan Alam

Oleh :M Arief Soendjoto

Air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Ini adalah Hukum Alam. Walaupun pada kondisi tertentu (misalnya dalam pemompaan), air bisa dialirkan dari tempat rendah ke tempat tinggi. Semua orang memahami Hukum Alam ini dan tidak membantahnya.
Alam akan bergerak menuju ke kesetimbangan. Ini pun Hukum alam. Namun, berbeda dengan yang pertama, Hukum Alam kedua ini tidak dipahami banyak orang. Anehnya, walaupun tidak paham, orang cenderung membantah hukum ini. Mungkin ini salah satu bukti Firman Allah yang mengatakan, manusia suka berbantah-bantahan.
Benarkah Hukum Alam itu? Bahasan berikut mudahan membuka nurani kita untuk memahami kedua hukum alam tersebut, selanjutnya akan menuntun tindak kita untuk hidup selaras dengan alam.
Ketika membangun rumah di atas lahan berawa, nini datu Urang Banjar mempelajari alam sekitar sehingga mampu memperhitungkan banyak hal secara cermat. Pondasi rumah berupa kayu galam. Tongkat, tiang, sunduk dan gelagar dari kayu ulin. Rumah berbentuk rumah panggung dan yang lebih penting lagi, lantainya berada sekian sentimeter dari permukaan air.
Perhitungan ini memang tidak meleset. Kayu galam termasuk kuat dan awet, apalagi apabila dibenamkan ke dalam tanah. Dalam kondisi terbenam, kayu dari pohon yang memang tumbuh di rawa ini akan berikatan erat dengan lumpur dan air, sehingga mampu menahan beban di atasnya. Kayu ulin diakui sebagai kayu awet untuk lahan berair, baik dalam kondisi di bawah maupun di atas permukaan air. Rumah panggung menjamin kelancaran aliran udara di kolong rumah dan mampu memperlancar pasang surut air. Tinggi muka air maksimum sudah diamati sekian lama, sehingga tidak akan pernah menggenangi lantai rumah atau tidak akan pernah menenggelamkan rumah.
Coba bandingkan kebiasaan nini datu itu dengan segala kegiatan yang dilakukan anak, cucu, cicit dan buyutnya masa kini. Bandingkan pula akibatnya.
Walaupun masih menggunakan galam sebagai pondasi, anak beserta keturunan nini datu sudah mulai meninggalkan (model) rumah panggung. Model rumah atau bangunan beralih ke bukan panggung. Untuk mendukung model demikian, lahan rawa pun diurug.
Rumah bukan panggung pun menjadi simbol status. Dahulu, rumah panggung dipergunakan segala kelas masyarakat. Adanya perbedaan kelas atau status sosial hanya tercirikan dari perbedaan ukuran, ornamen yang menghiasi atau bentuk (arsitektur) rumah. Sekarang, rumah panggung cenderung untuk kelas bawah, sedangkan rumah bukan panggung (yang berdiri di atas tanah urug) untuk kelas menengah ke atas.
Bersamaan dengan gegap gempitanya pembangunan rumah/bangunan bukan panggung dan pengurugan rawa, dampak negatif mulai terasa. Hujan yang turun dalam waktu beberapa jam saja, membuat wilayah sekitar kita banjir. Kita pun akhirnya mengeluh dan memaki.
Apabila berpikir rasional, kita sudah seharusnya sadar bahwa lahan rawa adalah lahan basah. Lahan basah berfungsi menampung air, baik secara permanen (terus menerus) maupun periodik. Di lahan basah air adalah ‘makanan sehari-hari’. Oleh sebab itu, banjir di lahan basah bukan musibah. Banjir merupakan peristiwa biasa.
Terdapat tiga faktor alami yang memungkinkan terjadinya banjir atau meningkatnya permukaan air di lahan rawa. Air pasang terjadi dan selanjutnya menghambat aliran air dari darat ke laut. Hujan turun dengan intensitas tinggi atau intensitas melebihi batas normal. Muara sungai yang merupakan jalan keluar air tersumbat, karena tertumpuknya endapan hasil peristiwa alami.
Nini datu menyadari keberadaan, peran dan fungsi lahan basah serta sudah memperhitungkan ketiga faktor itu. Mereka membuat rumah panggung untuk kehidupan keluarga dan kegiatan sehari-hari. Mereka tidak menebangi pohon di hutan dan tidak membongkar tanah secara sembarangan, sebagai upaya untuk menghindari terjadinya penyumbatan jalan keluar air. Mereka membuat sistem tataair mikro untuk bertani. Mereka memanfaatkan lahan basah sebagai tempat beternak itik, memelihara kerbau rawa atau memanen ikan.
Hal ini sekaligus menunjukkan, nini datu adalah orang adaptif dan mampu menyesuaikan diri terhadap alam. Mereka bersahabat dengan alam. Mereka menyadari sepenuhnya, manusialah yang sesungguhnya harus menyelaraskan diri atau menyerasikan diri dengan alam, bukan sebaliknya. Ibarat hidup di kutub, manusia yang seharusnya menggunakan baju hangat dan bukan sebaliknya, kutub harus memberi kehangatan pada tubuh manusia.
Hal ini berbeda dengan cucu, cicit dan buyutnya. Ketiga keturunan ini melawan alam dan berusaha mengubah alam. Mereka membangun rumah/bangunan bukan panggung serta mengurug lahan rawa, tanpa mempedulikan karakter lahan rawa. Mereka bahkan mempercepat penyumbatan jalan air melalui pembongkaran atau penggalian tanah (seperti penambangan) serta pembuangan limbah (padat) rumah tangga atau limbah pabrik secara sembarangan ke perairan.
Keterbatasan Alam
Banjir sebetulnya merupakan proses ke arah kesetimbangan. Agar mudah memahaminya, kita bisa menganalogikan lahan rawa dengan piring berisi air. Seperti di lahan rawa, kesetimbangan terjadi di dalam piring berisi air. Namun, ketika kita memasukkan sebungkah benda padat (batu misalnya) ke dalamnya, kesetimbangan berubah. Perubahan kesetimbangan ditunjukkan dengan meningginya permukaan air atau tumpahnya air.
Analogi tentang kesetimbangan juga bisa kita berlakukan pada hutan. Seperti diketahui, hutan berperan besar dalam pengaturan siklus air (hidrologi). Dia mampu memperkecil peluang terjadinya banjir pada musim penghujan, mempertahankan air pada musim kemarau, dan memperkecil longsor. Namun kita sering melihat, walaupun ada hutan, banjir dan longsor tetap terjadi. Kondisi demikian sebetulnya alami.
Hutan tidak berfungsi normal apabila, 1) curah hujan sangat tinggi (di atas 100 mm per hari), 2) hujan turun lebih dari tiga hari berturut-turut, 3) kondisi saluran pembuangan (drainase) buruk. Longsor pun akan terjadi, apabila hujan itu jatuh menimpa maka; 1) hutan yang tumbuh di atas lahan berstruktur geologis labil atau 2) hutan yang tumbuh di atas tanah bersolum tipis.
Dari sini kita bisa menarik simpulan umum. Ketika ada gangguan pada alam yang sudah setimbang dan gangguan tersebut melebihi kemampuan yang bisa ditanggung alam, maka alam selalu berusaha mencari atau bergerak ke kesetimbangan baru. Dalam proses pergerakan inilah manusia bisa menjadi korban.
Adanya kemampuan tertentu dan adanya pergerakan ke kesetimbangan baru menunjukkan, alam ada batasnya. Ketika alam memiliki banyak keterbatasan, dalam benak seharusnya sudah terpola jangan melawan alam. Lebih baik kita mempelajari karakter alam dan selanjutnya menyelaraskan hidup dengan alam, daripada menjadi korban kemurkaan alam.
Kita adalah bagian dari alam dan tidak bisa terlepas dari alam. Apa pun yang terjadi pada alam dapat mempengaruhi kita. Kalaupun Allah berfirman, manusia adalah khalifah di muka bumi. Bukan berarti bahwa Allah menyuruh manusia untuk berbuat semaunya.

http://www.indomedia.com/bpost/102004/13/opini/opini1.htm